PERNIKAHAN DINI : CEGAH STUNTING
Dr. Diana Hertati, M.Si
Dosen Adm. Publik FISIP UPNV Jatim

521

NASIONAL || faktaindonesia.co.id – Hasil Studi World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa salah satu penyebab masalah stunting di Indonesia adalah maraknya pernikahan dini. Pernikahan dini, menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor  1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, di bawah usia 19 tahun.

Saat melakukan sebuah pernikahan, perempuan yang masih berusia remaja secara psikologis belumlah matang. Mereka bisa jadi belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehamilan dan pola asuh anak yang baik dan benar serta organ reproduksi belum siap. Padahal para remaja putri masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun. Bahayanya jika mereka sudah menikah pada usia remaja, misalnya 15 atau 16 tahun, maka tubuh ibu akan kekurangan gizi karena harus berbagi dengan bayi yang dikandungnya. Apabila nutrisi seorang ibu tidak mencukupi selama mengandung, bayi akan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan sangat berisiko tinggi terkena stunting.

Pemerintah terus melakukan berbagai upaya penanggulangan maupun pencegahan pernikahan dini  agar dapat mengurangi angka stunting, melalui Kementerian Kesehatan sebagai garda terdepan serta Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk sosialisasi dampak pernikahan dini dan stunting. Demikian juga di Provinsi Jawa Timur, Bupati Bojonegoro mengeluarkan sebuah kebijakan berupa Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2016 Tentang Pencegahan Perkawinan Pada Usia Anak. Dimana hal ini menjadi tugas dan fungsi Dinas Pemberdayan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaen Bojonegoro untuk melakukan pencegahan perkawinan pada usia anak.

Berdasarkan data yang dihimpun dari DP3AKB menunjukkan bahwa pada April tahun 2021 lalu mencapai angka 262 dispensasi dan pada bulan April tahun 2022 ini menjadi 174 dispensasi atau turun 88 angka. Ini merupakan penurunan yang cukup signifikan.  Sedangkan dalam periode bulan Maret sampai  April 2022 terdapat data sebanyak 96 perkawinan anak (https://bojonegorokab.go.id). Oleh karena itu perlunya dilakukan sosialisasi secara kontinyu dari berbagai stakeholders yang ada kepada kantong- kantong yang rawan terhadap persoalan ini guna mencegah adanya pernikahan dini dan lonjakan angka stunting. Penekanan adanya pendewasaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Syarat Perkawinan yaitu hanya diizinkan apabila usia laki-laki dan perempuan sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dirasa sangat perlu dan penting sebagai sebuah langkah adanya implementasi kebijakan. (red)

iklan bawah berita