Dukung Pustakawan Usulkan Kebijakan Perda Perpustakaan, Begini Langkah Anggota Komisi B DPRD Jatim Agatha

455

Surabaya || faktaindonesia.co.id – Anggota Komisi B DPRD Jatim Agatha Retnosari, S.T., mengharapkan bahwa, tujuan diadakannya kegiatan ini agar bisa memberikan pendampingan dan kebutuhan minat baca.

Langkah ini, menurutnya, turut menumbuhkan minat baca bagi semua kalangan serta hal tersebut tidak mudah secara instan. Caranya, harus dimulai itu dari lingkungan keluarga.

“Pustakawan tidak hanya memberikan Literasi, tetapi membantu mengubah mindset (pola pikir) kita dan anak-anak supaya bersedia membaca,” ujar Agatha, disela usai memberikan paparan Sosialisasi wawasan kebangsaan bertema peran penting Pustakawan sebagai ujung tombak Literasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, di Widya Kartika Conference Center, Jalan Dukuh Kupang Timur XIII No. 12B Surabaya, Kamis (7/7/2022).

Untuk menangani beberapa persoalan tersebut, kata Politisi perempuan Fraksi PDIP bahwa, menjadi kesejahteraan pustakawan dan penyelenggaraan perpustakaan di Kota/Kabupaten.

“Saya usulkan, dan menyediakan diri untuk advokasi tentang kebijakan Perda penyelenggaraan perpustakaan. Maka itu, saya siap untuk mendampingi, meskipun bukan wewenang. Tapi, paling tidak perjuangankan Perda bersama-sama,” tutur Agatha kepada faktaindonesia.co.id.

Maka, disampaikan kembali, demikian menjadi sebagai autokritik. Karena, sempat beberapa aspirasi kebutuhan Peraturan Daerah (Perda) untuk diselenggarakan perpustakaan di Jawa Timur. “Ini bagi saya sangatlah penting,” ucapnya.

Agatha menyampaikan bahwa, pada PISA (Programme for International Student Assessment) menganalisa tingkat Literasi membaca yang di selenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. Artinya, mempelajari tentang minat kemapuan membaca, matematika, sains bagi siswa tingkat SMP berusia 15 tahun. Nilai PISA kita, ada pada urutan ke 62 dari 70 Negara.

Agatha Retnosari Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jatim bersama penggiat Pustakawan (dok.faktaindonesia.co.id)

Oleh karena itu, menandakan apa? Literasi kita tidak tinggi. Tetapi, impact (hasil jangka panjang) output (hasil yang didapatkan) nya untuk literasi ke masyarakat sampai seberapa jauh. Faktanya, kita semua tahu, jangankan anak-anak, kita sendiri kalau sudah memegang gadget lupa.

“Ada tidak kita punya Lead Time (waktu tenggang saat penyelesaian proses). Padahal pustakawan merupakan suatu komunitas penggiat Literasi. Berarti, sebenarnya kawan-kawan ini, memang hobi membaca. Tapi, hanya saja tidak punya waktu khusus membaca setiap hari,” urainya.

Sehingga, Agatha bilang, kegiatan wawasan kebangsaan ini merupakan tugas anggota dewan untuk mensosialisasikan.

“Kali ini, kami adakan tepatnya memperingati Hari Pustakawan Nasional 7 Juli 2022, nah inilah menjadi penting,” imbuhnya. (ynt/ries)

iklan bawah berita