Pemahaman Anti Bullying di SMA Negeri 1 Menganti Gresik, Ini Pesan Kepsek

79

Gresik, faktaindonesia.co.id – Untuk Mengantisipasi perundungan dan kekerasan atau Anti Bullying, maka SMA Negeri 1 Menganti, Kabupaten Gresik menerapkan kegiatan kepada sejumlah murid maupun guru.

Hal tersebut, jika dilakukan akan berdampak pada anak dan juga proses belajar nantinya terkesan tidak nyaman.

“Kami berpesan, agar betul memahami berkaitan pada Anti Bullying ini. Termasuk, pada guru, jika selama ini memanggil para murid dengan panggilan tidak baik, maka harus lebih mengubah, ataupun lebih difikirkan dengan kebiasaan tersebut,” kata Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Menganti Kabupaten Gresik, H. Ainur Rofiq, S.Pd., M.Pd., kepada faktaindonesia.co.id, Rabu (29/12/2021).

Menurutnya, dalam hal ini di biarkan dengan panggilan tidak baik. Sehingga, pada anak agar tetap mengingatkan. Jadi, tetap saling ingatkan. Tujuannya, saat kegiatan pembelajaran pada sekolah bisa berlangsung tanpa adanya mengarah pada Bullying itu,” ungkap Rofiq.

Baginya, dikatakan kembali, jika diterapkan nanti akan cukup efektif. Serta, kedepannya akan berjalan maksimal ketika tersampaikan pada si anak maupun ke teman-temannya.

“Kami rasa, pihak Pemerintah untuk terus konsisten membuat program dengan Anti Bullying seperti ini,” jelas dia.

Oleh sebab itu, kata Rofiq, untuk mengantisipasi Anti Bullying bisa melalui masing-masing guru, atau dengan kegiatan Osis juga bisa tersampaikan.

“Intinya, adalah hal terkecil dengan panggilan tidak baik, sehingga perlu merubahnya, dan itu tidak di perbolehkan itu saja,” tuturnya.

Sehingga, sambung dia, dengan kebiasaan itulah akan tetap tersampaikan melalui pertemuan pada sejumlah siswa atau anak. Ya, bisa secara formal, maupun non formal agar tetap tersampaikan,” papar dia.

Disisi lain, Rofiq menceritakan, pihaknya juga melakukan tiap minggu sekali pada luar jam pembelajaran dalam bentuk pemberian materi (Anti Bullying) 15 modul. Artinya, dengan memberikan pembelajaran itu dapat di pelajari bagi peserta didik secara mandiri.

“Sebelumnya, para guru inilah sebagai fasilitator, dan materinya diberikan oleh pemerintah pusat, yang kemudian tersampaikan kepada murid seputar pemahaman Anti Bullying itu,” ujarnya.

Dia menyebut bahwa, setelah anak diberikan pembelajaran, olehnya mengembangkan melalui poster, bahkan drama pada channel YouTube yang sudah ada.

“Setelah tugas materi diberikan, mereka (murid) mempraktekkan drama itu pada YouTube, dan masing-masing peran dilakukan ada sebagai guru, dan siswa,” tukas Rofiq. (vf/yud)

iklan bawah berita